FEATURE TOKOH TERBARU 

Diakah pengibar Merah Putih pertama?

ILYAS KARIM | Hendry Sihaloho

Wajahnya keriput. Kumisnya memutih. Juga rambut dan alisnya. Daging kelopak matanya melorot menutupi kedua mata laki-laki yang kini berusia lebih dari 80 tahun itu. Dia mengaku sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pada hari Proklamasi. Namun catatan sejarah dan banyak kalangan meragukannya.


Dialah Ilyas Karim. Ketika ditemui di kediamannya kawasan Pancoran, Jakarta, Selasa (07/08/2012) itu, Ilyas baru saja keluar dari kamar. Bersama istrinya, Danis, keduanya tinggal di Jl Rawajati Barat 7, RT 09/RW 04, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Rumah berukuran 10x7 meter persegi itu dipisahkan satu ruas jalan dari pagar kawasan apartemen Kalibata City. Berpunggungan dengan rel kereta api.

Nama Ilyas melejit tahun lalu, saat media memberitakannya sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pada hari Proklamasi di Jakarta, 17 Agustus 1945. Keterlibatannya dalam pengibaran bendera, kenangnya, berawal dari ajakan Latief Hendraningrat, salah satu anggota pasukan Pembela Tanah Air (Peta). Sembari menarik tangan, Latief meminta Ilyas ikut mengibarkan bendera. Ketika itu, Ilyas sedang melintas di depan rumah Soekarno, menjelang proklamasi.

"Saya disuruh berdiri di tiang bendera,” kata Ilyas sambil mengerutkan dahi, mencoba mengingat lagi detail peristiwa itu. Bahkan, menjelang pengibaran bendera, Fatmawati, Istri Bung Karno sempat memintanya untuk berhati-hati.  “Dik, jangan sampai robek ya. Bendera ini dijahit dengan tangan,” ujar Ilyas menirukan ucapan Fatmawati. Bahkan, aroma wangi yang keluar dari bendera itu pun masih terkenang.

“Waktu dibentangkan, bendera itu wangi,” katanya. Untuk menguatkan ceritanya, Ilyas menegaskan bahwa dirinya adalah sosok pemuda bercelana pendek dalam foto proses pengibarkan bendera yang banyak beredar di buku sejarah.

Tak ada bukti
PENGIBARAN MERAH PUTIH PERTAMA | repro
Tak lama sejak pengakuan itu dimuat media, respon mulai berdatangan. Bahkan, Ilyas sempat mendapatkan satu ruangan di Kalibata City. Secara simbolis, bantuan diserahkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, yang saat itu dijabat Prijanto. Sayang, kelanjutan soal apartemen tak lagi terdengar. Sebaliknya, gugatan atas pengakuannya sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih berdatangan dari segala penjuru.

Nama Ilyas Karim sebagai pengibar bendera saat proklamasi, memang ibarat turun dari langit. Tak pernah sekalipun disebut-sebut oleh pelaku sejarah. Dokumentasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi pun tak bisa banyak bicara. Tak ada foto si pemuda bercelana pendek yang tampak dari depan.

Pada catatan museum tercantum keterangan bahwa pengibar bendera saat itu adalah Latief Hendraningrat dan Suhud Martokusumo. Latief menjadi pengerek, dan Suhud yang memegangi bendera.

Pemandu museum, Jaka Perbawa, mengatakan banyak orang menanyakan identitas para pengibar Bendera Pusaka, seiring pemberitaan tentang Ilyas mencuat. Selalu dia jawab dengan tegas, "Pengibar bercelana pendek adalah Suhud Martokusumo."

Sejarawan Asvi Warman Adam pun berpendapat Ilyas bukanlah pengibar bercelana pendek itu. Keyakinannya berbasiskan dokumen sejarah yang bisa ditemukan. Peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menduga motif pengakuan Ilyas adalah motif ekonomi. "(Seperti) pada kasus Supriyadi. Bila ditelusuri, pernyataannya bertentangan dengan sejarah,” kata dia.

Kendati demikian, ia menyayangkan sikap media yang memuat pengakuan Ilyas tanpa verifikasi. Penulis Buku Menguak Misteri Sejarah itu menyarankan sebaiknya mengecek lebih dulu kesaksian seseorang, bila berkaitan dengan sejarah.

Sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal, juga menyangsikan pengakuan Ilyas. Menurut dia, media massa punya andil membesar-besarkan pengakuan itu. Belum lagi pemberian hadiah apartemen dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Seperti melakukan pembenaran," katanya.

Rizal menduga tindakan Ilyas adalah cermin gejala kemiskinan di masyarakat. Ilyas barangkali adalah gambaran para veteran yang merasa tak dihargai, setelah dulu turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. "Ilyas Karim adalah contoh veteran yang hidupnya merana,” katanya.

Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Ilyas pun dengan tenang menyatakan tak keberatan pada pendapat beragam kalangan yang meragukan pengakuannya. Dia juga mengaku memiliki data pendukung, meski ia tidak membantah menerima bantuan berupa satu apartemen di Kalibata City.

Tapi, kata dia, bantuan itu adalah untuk perannya sebagai Pejuang Siliwangi. "Bukan karena saya mengibarkan Bendera Pusaka," tepis veteran berpangkat terakhir Letnan Kolonel itu. Jadi, siapa yang salah?

Hendry Sihaloho | Palupi Auliani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar