FEATURE TOKOH TERBARU 

Mentadarusi Ali Sastroamidjojo dan semangat Bandung



Adzan Maghrib sayup-sayup berkumandang dari masjid-masjid di sekitar Jl Braga dan Jl Asia-Afrika, Bandung, Jawa Barat. Hiruk-pikuk aktivitas kehidupan kota ini pun lambat-laun mereda, seiring petang menjelang malam. Namun tidak demikian di Ruang Audio-Visual Gedung Merdeka, Bandung. Ada tadarusan yang tak biasa di sana.

Puluhan kepala tertunduk khusyu, di ruangan berukuran tiga perempat lapangan bulu tangkis itu. Ada 60 kursi tersusun rapih berbentuk huruf 'U' dalam tiga lapis baris, dan terisi penuh manusia. Di tangan sebagian orang-orang ini, terbentang buku setebal 666 halaman.

Petang itu, perhatian terpatri ke halaman 640. Seseorang membaca kata demi kata yang tertera. Tak selalu lantang, tapi cukup untuk terdengar di seantero ruangan. Lainnya khusyu menyimak.

Tak banyak yang datang setiap kali 'tadarus' berlangsung. Sepuluh sampai 15 orang saja. Sengaja, mereka merujuk kata yang lazim dipakai untuk menyimak ayat Alquran secara berkelompok, untuk menamai aktivitas rutin tersebut.

Kekhusyuan semacam ini, sudah dimulai sejak Februari 2012. Sekelompok pemuda menapaki huruf demi huruf biografi Ali Sastroamidjojo. 'Tonggak-tonggak di Perjalananku', adalah biografi yang ditulis sendiri oleh sang Perdana Menteri Indonesia periode 1953-1957 itu. Sedangkan para penyimak di petang-petang selepas Maghrib setiap Rabu ini, menamai diri mereka sebagai Asia-Africa Reading Club (AARC).

Ali Sastroamidjojo, punya banyak kiprah pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Pernah menjadi Menteri Pengajaran dan Wakil Ketua MPRS, Ali juga merupakan duta besar pertama Indonesia untuk Amerika Serikat. Salah satu puncak karir lelaki kelahiran Grabag, Magelang, Jawa Tengah ini, adalah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia.

"Ali merupakan sosok pejuang diplomasi, dengan jiwa internasionalisasi yang konsisten, khususnya konsisten terhadap semangat Bandung," ujar Elly Nugraha, Plh Kepala Museum Konferensi Asia Afrika. Saat memberikan sambutan syukuran khataman tadarusan buku Tonggak-tonggak di Perjalananku, dia berharap sosok Ali bisa masuk ke relung pemuda yang merupakan penerus bangsa.

Tadarusan tak hanya menyimak halaman demi halaman buku Ali Sastroamidjojo. Tapi dihadirkan pula pengkaji sejarah, sosial, dan budaya. Beberapa nama yang turut berbagi kajian adalah Acep Iwan Saidi, Alfathri Adlin, Dina Y Sulaeman, dan Hawe Setiawan.

Lintas bangsa

Potong Tumpeng
SYUKURAN KHATAMAN
Petang itu, 24 Oktober 2012, keriuhan tadarus lebih terasa. Lembaran buku yang disimak sudah menujukkan halaman 656. Tinggal tiga paragraf tersisa, dan usailah sudah tadarusan delapan bulan itu. Sepuluh halaman selebihnya dari buku tersebut, hanya berisi indeks dan catatan pelengkap, yang tak masuk hitungan untuk dibaca berjamaah.

Selama delapan bulan, tadarus biografi Ali Sastroamidjojo tak hanya diikuti anak-anak muda Bandung. Hadir di antara mereka, Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika yang berasal dari Jepang, Yagura Roichi. Kesehariannya bekerja sebagai peneliti, dia ikut membacakan satu paragraf untuk peserta tadarus.

Peserta internasional lain, adalah Musa Muwaga, warga Uganda yang tengah belajar di Universitas Padjadjaran. Terbata-bata dan sangat hati-hati, seperti halnya Roichi, Musa pun membacakan satu paragraf biografi. Penuh perjuangan, bacaan keduanya menuai pujian dan tepuk tangan dari peserta lain.

Tepat pukul 18.05 WIB petang itu, kalimat dari paragraf terakhir buku biografi Ali Sastroamidjojo usai dibaca dan disimak. Tadarusan diakhiri dengan paparan riwayat singkat Ali Sastroamidjojo, yang dibacakan Desmond Satria Andrian.

Hadir dalam khataman tadarus tersebut, Tarida Sastroamidjojo, cucu Ali Sastroamidjojo. "Saya terharu dan bangga, bahwa Museum Asia Afrika memberikan perhatian pada karya beliau," ujar dia mewakili keluarga. Tarida berharap pesan Ali bisa membuka cakrawala pengetahuan generasi muda.

Inspirasi

Bandung Ibu Kota Asia-Afrika
BANDUNG IBU KOTA ASIA AFRIKA
Beragam kesan membekas di benak AARC, khususnya peserta tadarus. Norma Novita Sari, misalnya, berpendapat Ali adalah inspirasi. Ibu satu anak ini pun mengaku mendapat banyak ide untuk terus menggelorakan semangat 'Bandung, Ibu Kota Asia Afrika'.

Norma sudah memulai dengan menggelar lomba baca dan malam keakraban pemuda Asia Afrika. Banyak kendala, tentu saja. Tapi dia menepisnya dengan sebuah pemikiran, "(Semua kendala ini) seperti (yang dihadapi) Indonesia dengan keterbatasan ekonominya (tapi) mampu mewujudkan Konferensi Asia Afrika 1955."

Semangat senada juga menggelora di dada Ario Saveno. Anggota AARC yang juga adalah gitaris dan desainer muda asal Bandung ini, berupaya menularkan semangat 'Bandung, Ibu Kota Asia Afrika' dengan merancang kaos bertuliskan frasa tersebut.

Ali menjadi inspirasi, karena dia-lah sosok yang sangat berkiprah menyukseskan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1955. Desmond menyebutnya sebagai sutradara besar konferensi tersebut. Yaitu saat Ali berhasil meyakinkan empat perdana menteri di Konferensi Kolombo, untuk menggelar Konferensi Asia Afrika. "Tanpa Colombo Plan, tidak ada Konferensi Asia Afrika," kata Desmond.

Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung, imbuh Desmond, juga semakin memperlihatkan kelihaian Ali dalam berdiplomasi. Apalagi konferensi ini merupakan forum internasional pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna, yang mampu mengakomodasi beragam latar belakang ideologi.

Dasa Sila Bandung, nyaris tak pernah lahir kalau saja Ali tak campur tangan. Pada hari kelima konferensi, konflik mencuat antara Perdana Menteri Cina, Chou En Lai, dengan Perdana Menteri Chevlon, John Kotawala. "Hampir-hampir saja Konferensi Asia Afrika 1955 gagal," ujar Desmond.

Ali, juga adalah pemilik pandangan internasionalisme yang sangat kuat. Halaman-halaman terakhir biografi Ali, menurut Desmond menggambarkan pemikiran itu. Yaitu pada bagian yang menuturkan kekecewaan Ali pada kinerja Perserikatan Bangsa Bangsa, dan penyikapannya. "(Pemikiran) yang patut kita apresiasi," ujar alumnus sastra Prancis Universitas Padjadjaran ini.

Otobiografi Ali juga merupakan sebuah keunggulan tersendiri. Karya Ali ini, kata Desmond, mampu menghadirkan para tokoh sejarah dengan sangat manusiawi. "Ditulis dalam bahasa tutur yang baik," kata dia.

Sekilas Ali Sastroamidjojo

Ali adalah Perdana Menteri kedelapan dari sepuluh Perdana Menteri yang pernah dimiliki Indonesia. Dia mengemban amanah tersebut dalam dua periode, yaitu 1953-1955 dan 1956-1957, kerap disebut Kabinet Ali Sastroamidjojo I dan Kabinet Ali Sastroamidjojo II. Kiprah politik Ali tak begitu saja turun dari langit, tapi dimulai jauh sebelum era kemerdekaan.

Dilahirkan pada 21 Mei 1903 di Grabag, Magelang, Jawa Tengah, Ali sudah menekuni aktivitas politik sejak masa sekolah. Jong Java dan Perhimpunan Indonesia, adalah di antara organisasi yang diikuti Ali masa itu. Bersama Mohammad Hatta yang kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Indonesia, Ali pernah ditahan pada 1927 oleh Polisi Belanda, karena aktivitas politiknya.

Partai Nasionalis Indonesia (PNI) adalah gerbong politik yang membesarkan Ali. Karir politiknya terus melaju setelah kemerdekaan. Hampir semua perjanjian internasional terkait Indonesia di masa awal kemerdekaan, melibatkan Ali di dalamnya. Menjadi Ketua Umum penyelenggara Konferensi Asia Afrika, disebut sebagai capaian tertinggi Ali di samping dua periode jabatannya sebagai Perdana Menteri.

Seperti jamaknya pemikir dan tokoh politik di eranya, Ali juga rajin berbagi pemikiran dalam bentuk tulisan. Selain otobiografi Tonggak-tonggak di Perjalananku, Ali juga menulis buku soal hukum internasional, politik luar negeri Indonesia, dan kisahnya saat belajar di Belanda.

Yudha P Sunandar / Palupi Auliani

Foto-foto : Dokumentasi Yudha P Sunandar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar